Mengapa Penerjemah Manusia Tetap Penting di Era AI?
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah banyak bidang, termasuk penerjemahan. Saat ini, berbagai alat berbasis AI mampu menghasilkan terjemahan dalam hitungan detik dan, dalam banyak kasus, dengan susunan bahasa yang tampak sangat lancar.
Hipyan Nopri
8/19/20264 min read


Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah banyak bidang, termasuk penerjemahan. Saat ini, berbagai alat berbasis AI mampu menghasilkan terjemahan dalam hitungan detik dan, dalam banyak kasus, dengan susunan bahasa yang tampak sangat lancar.
Namun, kemajuan tersebut tidak berarti bahwa peran penerjemah manusia profesional menjadi tidak relevan. Untuk dokumen penting—terutama dokumen hukum, bisnis, kontraktual, akademik, ilmiah, dan teknis—kualitas penerjemahan tidak hanya ditentukan oleh kelancaran bahasa. Ketepatan makna, pemahaman konteks, konsistensi terminologi, serta kemampuan mempertanggungjawabkan keputusan penerjemahan tetap membutuhkan penilaian manusia.
AI Cepat, tetapi Penerjemahan Bukan Sekadar Mengganti Kata
Salah satu keunggulan utama AI adalah kecepatan. Teks dalam jumlah besar dapat diproses dalam waktu sangat singkat.
Akan tetapi, penerjemahan profesional bukan sekadar mengganti kata atau kalimat dari bahasa sumber dengan padanannya dalam bahasa sasaran.
Penerjemah perlu memahami:
konteks keseluruhan dokumen;
tujuan dokumen;
hubungan antara satu ketentuan dan ketentuan lainnya;
terminologi khusus suatu bidang;
nuansa dan maksud penulis;
kemungkinan ambiguitas dalam teks sumber; dan
konsekuensi dari penggunaan suatu istilah tertentu.
Sebuah istilah dapat memiliki beberapa terjemahan yang secara tata bahasa benar, tetapi tidak semuanya sesuai untuk konteks tertentu.
Dalam dokumen hukum, misalnya, pemilihan istilah yang kurang tepat dapat memengaruhi interpretasi suatu ketentuan, hak dan kewajiban para pihak, atau bahkan makna hukum suatu dokumen.
Terjemahan yang Terdengar Lancar Belum Tentu Akurat
Salah satu tantangan terbesar dalam menggunakan AI untuk menerjemahkan dokumen penting adalah bahwa hasilnya dapat terdengar sangat meyakinkan meskipun terdapat kesalahan.
AI dapat menghasilkan kalimat yang:
terdengar alami tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan teks sumber;
menggunakan istilah yang tidak sesuai dengan bidang dokumen;
menghilangkan bagian tertentu dari makna sumber;
menambahkan makna yang sebenarnya tidak terdapat dalam teks asli; atau
menafsirkan kalimat ambigu tanpa mengetahui konteks yang sebenarnya.
Masalahnya, kesalahan seperti ini sering kali lebih sulit dikenali dibandingkan kesalahan tata bahasa biasa karena hasil terjemahan tetap terlihat profesional di permukaan.
Karena itu, kelancaran bahasa tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran kualitas penerjemahan.
Konteks Menjadi Sangat Penting dalam Dokumen Profesional
Penerjemah manusia dapat menilai sebuah istilah dengan mempertimbangkan keseluruhan dokumen.
Contohnya, satu kata dalam bahasa Inggris dapat memiliki arti berbeda dalam dokumen hukum, keuangan, teknis, atau percakapan sehari-hari. Penerjemah profesional tidak semata-mata memilih arti pertama yang tersedia, tetapi mempertimbangkan bagaimana istilah tersebut digunakan dalam konteks yang sedang diterjemahkan.
Hal ini menjadi semakin penting apabila suatu dokumen:
memuat istilah khusus;
menggunakan rujukan silang;
memiliki definisi tertentu;
mengandung kalimat yang dapat ditafsirkan lebih dari satu cara; atau
berkaitan dengan sistem hukum atau praktik profesional tertentu.
Dalam kondisi seperti itu, penilaian manusia tetap sangat penting.
Penerjemah Manusia Dapat Mengenali Ambiguitas
Teks sumber tidak selalu sempurna.
Ada kalanya suatu kalimat:
tidak jelas;
memiliki kesalahan penulisan;
menggunakan singkatan yang tidak dijelaskan;
mempunyai lebih dari satu kemungkinan interpretasi; atau
bertentangan dengan bagian lain dalam dokumen.
AI mungkin langsung memilih salah satu interpretasi dan menghasilkan terjemahan seolah-olah maknanya sudah pasti.
Sebaliknya, penerjemah manusia dapat menyadari bahwa terdapat masalah dalam teks sumber, melakukan penelitian, membandingkan konteks, atau meminta klarifikasi apabila diperlukan.
Kemampuan untuk mengetahui kapan sesuatu tidak dapat langsung diterjemahkan secara pasti merupakan bagian penting dari kompetensi profesional seorang penerjemah.
Konsistensi Terminologi Tidak Boleh Diabaikan
Dokumen profesional sering kali menggunakan istilah tertentu secara berulang.
Jika satu istilah diterjemahkan dengan beberapa padanan yang berbeda tanpa alasan yang jelas, pembaca dapat menganggap istilah tersebut memiliki makna berbeda.
Karena itu, konsistensi terminologi sangat penting.
Penerjemah profesional dapat memanfaatkan perangkat Computer-Assisted Translation (CAT) seperti Trados untuk membantu:
mempertahankan konsistensi terminologi;
mengelola translation memory;
menemukan pengulangan;
membandingkan bagian dokumen;
melakukan pemeriksaan kualitas tertentu; dan
meningkatkan efisiensi pengerjaan dokumen digital.
Penggunaan teknologi seperti ini tidak menggantikan penerjemah. Teknologi digunakan untuk mendukung keputusan penerjemah manusia, bukan mengambil alih tanggung jawab atas kualitas akhir.
AI Tetap Berguna—Jika Digunakan Secara Tepat
Mempertahankan pentingnya penerjemah manusia bukan berarti menolak AI.
AI dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna untuk berbagai keperluan, seperti eksplorasi awal suatu istilah, pencarian informasi, analisis bahasa, atau tugas lain yang dapat membantu meningkatkan efisiensi.
Persoalannya adalah membedakan antara alat bantu dan pengambil keputusan akhir.
Untuk teks informal atau sekadar memahami gambaran umum suatu informasi, penerjemahan otomatis mungkin sudah memadai.
Namun, apabila dokumen akan digunakan untuk kepentingan hukum, bisnis, akademik, administrasi, teknis, atau kepentingan profesional lainnya, risikonya berbeda.
Dalam kondisi tersebut, terjemahan harus diperiksa oleh orang yang memahami kedua bahasa sekaligus konteks dokumen.
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Hasil Terjemahan?
Ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara AI dan penerjemah profesional.
Seorang penerjemah manusia dapat:
menjelaskan alasan pemilihan istilah;
melakukan revisi berdasarkan konteks;
menjawab pertanyaan klien;
mempertimbangkan instruksi khusus;
memastikan konsistensi dokumen; dan
melakukan pemeriksaan akhir sebelum hasil diserahkan.
Dengan kata lain, terdapat unsur tanggung jawab profesional.
Untuk dokumen penting, kemampuan mempertanggungjawabkan keputusan penerjemahan memiliki nilai yang tidak dapat diukur hanya berdasarkan kecepatan.
Mengapa Penerjemah Profesional Masih Dibutuhkan?
Pada akhirnya, kebutuhan akan penerjemah manusia tidak semata-mata muncul karena teknologi belum cukup canggih.
Penerjemah profesional tetap diperlukan karena bahasa berkaitan dengan konteks, tujuan, interpretasi, budaya, disiplin ilmu, dan tanggung jawab.
AI dapat memproses bahasa dengan sangat cepat. Namun, dokumen penting membutuhkan lebih dari sekadar teks yang terdengar baik.
Dokumen membutuhkan terjemahan yang:
tepat;
lengkap;
konsisten;
sesuai konteks;
menggunakan terminologi yang tepat; dan
layak digunakan untuk tujuan yang dimaksud.
Karena itu, di era AI, peran penerjemah manusia justru berkembang. Penerjemah profesional tidak perlu bersaing dengan teknologi dalam hal kecepatan, tetapi menggunakan teknologi secara tepat sambil memberikan sesuatu yang lebih penting: penilaian profesional, pemahaman konteks, ketelitian, dan tanggung jawab terhadap hasil akhir.
Kesimpulan
AI telah membawa perubahan besar dalam dunia penerjemahan dan akan terus berkembang. Namun, semakin penting suatu dokumen, semakin besar pula kebutuhan terhadap ketelitian dan penilaian profesional.
Untuk dokumen hukum, bisnis, akademik, ilmiah, teknis, dan dokumen penting lainnya, penerjemah manusia tetap mempunyai peran yang sangat penting dalam memastikan bahwa pesan yang diterjemahkan bukan hanya terdengar lancar, tetapi juga benar-benar menyampaikan makna yang dimaksud.
Dalam penerjemahan profesional, teknologi sebaiknya menjadi alat yang memperkuat kemampuan penerjemah manusia, bukan pengganti penilaian manusia itu sendiri.
