Menerjemahkan Dokumen Hasil Pindai: Pengalaman Menggunakan Trados Studio 2024 dan ChatGPT
Dokumen hasil pindai masih cukup sering ditemui dalam pekerjaan penerjemahan profesional, terutama untuk sertifikat, dokumen hukum, dokumen administratif, dan berbagai dokumen resmi lainnya. Berbeda dengan dokumen Word atau PDF berbasis teks, dokumen hasil pindai pada dasarnya berupa gambar. Akibatnya, teks di dalam dokumen tersebut tidak selalu dapat langsung dikenali, dipilih, atau diedit.
Hipyan Nopri
8/25/20263 min read


Dokumen hasil pindai masih cukup sering ditemui dalam pekerjaan penerjemahan profesional, terutama untuk sertifikat, dokumen hukum, dokumen administratif, dan berbagai dokumen resmi lainnya. Berbeda dengan dokumen Word atau PDF berbasis teks, dokumen hasil pindai pada dasarnya berupa gambar. Akibatnya, teks di dalam dokumen tersebut tidak selalu dapat langsung dikenali, dipilih, atau diedit.
Baru-baru ini saya menerima sebuah pekerjaan penerjemahan sertifikat dalam format hasil pindai. Dari pengalaman tersebut, saya kembali melihat bahwa setiap teknologi memiliki fungsi dan kekuatan yang berbeda dalam alur kerja penerjemahan profesional.
Tantangan Menerjemahkan Dokumen Hasil Pindai
Secara visual, dokumen pindai bisa terlihat sama seperti dokumen digital biasa. Namun, dari sisi teknis, keduanya bisa sangat berbeda.
Pada dokumen Word atau PDF berbasis teks, isi dokumen umumnya dapat langsung diproses oleh perangkat lunak penerjemahan. Sementara itu, pada dokumen hasil pindai, teks sering kali hanya tersimpan sebagai bagian dari gambar.
Jika seluruh isi dokumen tersebut harus diketik ulang secara manual sebelum diterjemahkan, proses pengerjaan tentu bisa menjadi lebih panjang. Selain membutuhkan waktu untuk melakukan transkripsi, penerjemah juga perlu memastikan bahwa nama, nomor, tanggal, keterangan, dan unsur lainnya dalam dokumen terbaca dengan benar.
Karena itu, saya mencoba mencari alur kerja yang lebih efisien.
Percobaan Pertama: Memproses Berkas dengan Trados Studio 2024
Sebagai bagian dari alur kerja penerjemahan profesional, saya terlebih dahulu mencoba memproses berkas tersebut menggunakan Trados Studio 2024.
Trados Studio merupakan salah satu alat CAT yang sangat berguna dalam pekerjaan penerjemahan, terutama untuk pengelolaan memori terjemahan, terminologi, konsistensi terjemahan, segmentasi, dan pengelolaan proyek.
Namun, pada berkas pindai yang saya gunakan kali ini, hasilnya berbeda dari dokumen berbasis teks yang biasa saya kerjakan.
Setelah dokumen dibuka di Editor, yang muncul hanya satu segmen tanpa teks yang dapat diterjemahkan. Dengan kata lain, pada kasus tersebut teks dari dokumen pindai tidak berhasil diekstrak menjadi konten yang dapat diproses langsung dalam Editor.
Pada tahap itu, saya perlu menggunakan pendekatan lain.
Mencoba Alur Kerja Alternatif dengan ChatGPT
Saya kemudian mencoba menggunakan ChatGPT untuk membantu membaca dan mengolah dokumen hasil pindai tersebut.
Dalam hal ini, hasilnya cukup menarik.
ChatGPT dapat membantu mengenali teks yang terdapat di dalam dokumen pindai, kemudian membantu proses penerjemahannya. Setelah isi dokumen berhasil diproses, hasilnya juga dapat disusun kembali ke dalam format yang dapat diedit.
Pada alur kerja yang saya gunakan, hasil akhirnya dapat dibuat dalam:
format Word yang dapat diedit, dan
format PDF untuk kebutuhan penyajian akhir.
Dengan demikian, pekerjaan yang sebelumnya berpotensi memerlukan cukup banyak proses manual dapat diselesaikan dengan alur kerja yang lebih efisien.
Bukan AI versus Alat CAT
Pengalaman ini tidak membuat saya melihat AI sebagai pengganti alat CAT, atau sebaliknya.
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Alat CAT seperti Trados Studio tetap memiliki peran yang sangat penting dalam lingkungan penerjemahan profesional. Memori terjemahan, pengelolaan terminologi, pencarian kecocokan, konsistensi antarsegmen, serta pengelolaan proyek merupakan kemampuan yang sangat bernilai, khususnya untuk dokumen panjang, proyek berulang, dan pekerjaan dengan terminologi khusus.
Sementara itu, teknologi AI dapat menjadi pelengkap yang berguna dalam kondisi tertentu, termasuk ketika penerjemah harus menangani dokumen berbasis gambar atau hasil pindai yang membutuhkan proses tambahan sebelum dapat diterjemahkan.
Bagi saya, pertanyaan yang lebih relevan bukan:
“Mana yang lebih baik, AI atau CAT tool?”
Melainkan:
“Teknologi mana yang paling tepat untuk tahap pekerjaan yang sedang dihadapi?”
Pendekatan seperti ini memungkinkan penerjemah memanfaatkan kekuatan masing-masing teknologi tanpa harus mempertentangkannya.
Efisiensi Tetap Harus Disertai Verifikasi
Kemampuan teknologi untuk membaca dokumen dan menghasilkan terjemahan tidak menghilangkan kebutuhan akan pemeriksaan manusia.
Dalam penerjemahan dokumen resmi, setiap detail tetap perlu diverifikasi dengan cermat. Nama, angka, tanggal, gelar, istilah hukum, nama lembaga, serta unsur format tertentu dapat memiliki arti penting dan tidak boleh hanya diterima begitu saja dari hasil pemrosesan otomatis.
Karena itu, AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu dalam alur kerja, bukan sebagai pengganti tanggung jawab profesional penerjemah.
Hasil ekstraksi maupun terjemahan tetap harus diperiksa, dibandingkan dengan dokumen sumber, dan disesuaikan dengan konteks serta tujuan penggunaan dokumen.
Kerahasiaan Dokumen Tetap Menjadi Prioritas
Dalam menangani dokumen klien, aspek lain yang tidak kalah penting adalah kerahasiaan.
Sertifikat dan dokumen resmi dapat memuat informasi pribadi seperti nama lengkap, nomor dokumen, tanggal lahir, tanda tangan, stempel, nomor identitas, atau informasi lainnya yang tidak seharusnya dipublikasikan.
Karena alasan tersebut, dokumen asli yang menjadi dasar pengalaman ini tidak saya tampilkan dalam artikel. Ilustrasi yang digunakan sebagai gambar tampilan juga merupakan ilustrasi khusus yang tidak memuat data klien ataupun informasi dari dokumen sebenarnya.
Bagi penerjemah profesional, pemanfaatan teknologi harus tetap berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap informasi milik klien.
Pelajaran dari Satu Dokumen Pindai
Pengalaman sederhana ini kembali mengingatkan saya bahwa alur kerja penerjemahan terus berkembang.
Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan menggunakan satu perangkat lunak yang sama dari awal hingga akhir. Dalam beberapa kasus, alur kerja yang paling efektif justru merupakan kombinasi beberapa teknologi.
Untuk dokumen yang saya kerjakan kali ini, Trados Studio tetap menjadi bagian penting dari perangkat kerja saya sebagai alat CAT, sedangkan ChatGPT membantu pada tahap pemrosesan dokumen scan yang tidak berhasil diekstrak dalam alur kerja awal.
Alhamdulillah, kombinasi pendekatan tersebut membuat pekerjaan yang semula tampak cukup banyak memerlukan proses manual menjadi lebih praktis dan efisien.
Pada akhirnya, teknologi bukanlah tujuan utama.
Teknologi adalah alat.
Nilai sebenarnya tetap terletak pada kemampuan penerjemah untuk memahami dokumen, menentukan alur kerja yang tepat, menjaga akurasi, memverifikasi hasil, dan memastikan terjemahan akhir memenuhi kebutuhan pengguna.
AI dan alat CAT tidak harus saling menggantikan. Dalam alur kerja yang tepat, keduanya justru dapat saling melengkapi.
